DEVIASI DAN PATOLOGI

1.Jelaskan mengapa disorganisasi sosial merupakan masalah sosial ? Berikan contohnya!
Disorganisasi sosial merupakan masalah sosial karena dilihat dari pengertiannya disorganisasi sosial adalah suatu proses sosial kontinu yang memanifestasikan aspek tekanan batin, ketegangan, bencana batin dari pada suatu sistem sosial. Disorganisasi sosial ada kaitannya dengan gejala disorganisasi individual, karena individu dan masyarakat merupakan aspek yang berbeda dari proses yang sama dalam interaksi sosial, sisi lain kekuatan dinamis yang dapat menumbuhkan disoganisasi sosial juga dapat menjadi penyebab disorganisasi individu, masyarakat yang disorganisasi pada umumnya juga terdiri dari individu yang lebih kurang bersifat disorganisasi. Dengan demikian pecahnya sistem dan ketidakpastian nilai dapat mengakibatkan kontrol sosial menjadi lemah, sehingga memberikan peluang pada individu untuk melakukan penyimpangan, individu terombang-ambing di antara berbagai nilai dan peran yang saling bertentangan.
Dalam disorganisasi sosial ini perubahan sosial menimbulkan keretakan organisasi sosial yang lama yang merupakan masalah sosial. Individu pada umumnya memiliki kesempatan atau dengan tidak sengaja melakukan penyimpangan, hal ini terjadi karena berbagai faktor yang ada, secara kontrol sosial mungkin tak dapat lagi mengatur perilaku individu. Atau begitu pula sebaliknya, individu merasa bahwasannya apa yang dilakukan sebagai suatu protes atas segala kontrol sosial yang tidak sanggup memnuhi kebutuhannya. Banyaknya kasus yang disebabkan oleh disorganisasi sosial hampir sebagian besar disebabkan oleh ketidakjelasan dari kontrol sosial tersebut. Contohnya pada kasus-kasus suap yang dilakukan para koruptor kepada para jaksa. Disorganisasi sosial terjadi karena para jaksa ini sudah mengabaikan hukum yang ada, mereka melaggar hukum dan tergiur oleh kebutuhan materi. Sehingga mereka yang seharusnya menegakkan hukum malah justru membelokan hukum dan memanipulasinya.
Contoh lain misalnya, ketika individu yang berasal dari desa tidak mampu menyesuaikan diri untuk hidup di daerah perkotaan karena berbagai faktor, misalnya rendahnya pendidikan, ketidakmampuan beradaptasi di masyarakat perkotaan maka individu tersebut tidak mampu melakukan reorganisasi dirinya sehingga melakukan tindakan-tindakan yang maladjusment atau deviasi atau perilaku-perilaku menyimpang lainnya, misalnya bunuh diri, melakukanb tindakan melawan hukum, jumlah kriminalitas atau pelanggaran terhadap norma lain menjadi suatu faktor terjadinya disorganisasi sosial.
2.Dalam aspek sosiokultural deviasi tingkah laku dapat dibedakan menjadi :
a. Deviasi Individualistik
Penyimpangan individual adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang menyimpang dari norma-norma suatu kebudayaan yang telah mapan. Misalnya, seseorang bertindak sendiri tanpa rencana melaksanakan suatu kejahatan, Penyimpangan individu berdasarkan kadar penyimpangannya dibagi menjadi lima, yaitu sebagai berikut.
1. Pembandel
2. Pembangkang
3. Pelanggar
4. Perusuh atau penjahat
5. Munafik
Contoh deviasi individualistik, penyalahgunaan narkoba, penyimpangan seksual (homoseksual, lesbian, pedofil, zina, seks bebas,dsb), tindakan kriminal (pencurian, pembunuhan, pemerkosaan, pengrusakan,dsb), gaya hidup (wanita berpakaian mini/ seksi/ ntidak pantas, laki-laki memakai anting, dsb). Deviasi individual dapat diatasi dengan pendampingan keluarga atau orang-orang di sekitarnya yang selalu mendukungnya dan membimbing dia untuk selalu melakukan hal-hal positif.
2.Deviasi Situasional
Deviasi situasional disebabkan oleh pengaruh bermacam-macam kekuatan situasional atau sosial diluar individu atau oleh pengaruh situasi dalam mana pribadi yangg bersangkutan menjaga bagan internal daripadanya. Situasi tadi memberikan pengaruh yang memaksa, sehingga individu tersebut terpaksa harus melanggar peraturan dan norma-norma umum atau hukum formal. Individu-individu atau kelompok-kelompok tertentu bisa mengembangkan tingkah laku menyimpang dari norma susila atau hukum sebagagai produk dari transformasi-transformasi psikologis yang dipaksakan oleh situasi dan kondisi lingkungan sosialnya.
Contohnya, gelandangan, pengemis, gepeng juga dapat digolongkan dalam deviasi situasional karena mereka melakukan perilaku yang menyimpang disebabkan oleh tuntutan keadaan yang memaksa. Sebenarnya mereka juga tidak ingin hidup mereka tidak menentu. Keadaanlah yang membuat mereka mengemis atau menggelandang.
masalah-masalah sosial yang terjada tidak bisa diselesaikan sendiri oleh individu tetapi peranan dari pemerintah sangat dibutuhkan. berbagai macam pusat rehabilitasi didirikan untuk menangani masalah-masalah ini. Rehabilitasi artinya usaha untuk mengembalikan keadaan yang tidak normal ke keadaan yang normal. Deviasi situasional sebenarnya dapat teratasi dengan adanya panti rehabilitasi, guna untuk mengembalikan perilaku menyimpang mereka membutuhkan rehabilitas.
c.Deviasi Sistemik
Deviasi sistemik adalah suatu perilaku penyimpangan yang sudah memilliki pola / sudah terpola, dilakukan terus menerus, yang kemudian menjadi doktrin suatu penyimpangan sosial. Pola perilaku penyimpangan ini sudah tersistem dan terorganisir, karena sudah dilakukan terus menerus maka menjadikan suatu doktrin yang kemudian terstruktur. Contohnya, pola perilaku oang yang terlalu fanatik dengan suatu agama, setiap hari mereka mendoktrin orang lain atau rekruitmen kepada orang baru, yang kemudian didoktrin dengan berbagai ajaran atau aliran. Meskipun berbagai doktrin itu terkadang justru menyesatkan. Contohnya para pengantin atau calon peledak bom yang dari masyarakat biasa kemudian di rekrut dan kemudian di cuci otaknya dengan aliran-aliaran atau ajaran tertentu. Atau aliran NII, mereka mendoktrin para pengikut-pengikut golongan NII bahwasannya agama mereka harus diakui, dan mereka mendoktrin pengikutnya untuk selalu tata pada agamnya, kemudian melakukan rekruitmen-rekruitmen kepada masyarakat yang bertujuan melanggengkan kelompoknya.
3. Buktikan dan berikan contoh bahwa ada korelasi yang tinggi antara beberapa gejala penyimpangan!
Gejala-gejala penyimpangan sosial tentu saja saling berkaitan, kaitan antar gejala-gejala ini yang nantina akan menyebabkan suatu penyimpangan terjadi. Gejala ini kemudian menjadi suatu awal dari sebuah penyimpangan, gejala-gejala inilah yang menjadi suatu faktor pendorong adanya suatu bentuk penyimpangan sosial. Gejala-gejala ini kemudian berkolerasi satu sama lain, hal ini bisa disebabkan dari faktor intern (dari individu itu sendiri) atau pun dari faktor ekstern (lingkungan, kondisi sosial, ekonomi, budaya, dsb). Dari berbagai faktor itu, korelaasi atau hubungan yang ditimbulkan berakibat pada adanya suatu penyimpangan. Contonya, para pecandu narkoba, bukan hanya satu dua orang yang mengalami itu, bahkan ada banyak orang yang mengalami kecanduan narkoba. Apabila ditanyakan pasti akan ada banyak alasan mengapa mereka lari ke narkoba. Banyak orang-orang yang pada awalnya frustasi, yang kemudian mencari pelarian, karena dirinya tidak sanggup lagi menghadapi permasalahan hidupnya. Banyak faktor yang menyebabkannya, mulai dari permasalahan keluarga (orang tua cerai atau kurang kasih sayang), permasalahan dengan teman kerja, teman sekolah, teman main, dsb. Gejala-gejala dari pecandu narkoba itu adalah bagaimana mereka mencoba melarikan diri dari masalah-masalah yang menimpanya dan kemudian mereka mencari suatu kesenangan, meskipun kesenangan itu negatif. Dengan berbagai faktor yang ada seperti faktor intern dan ekstern, maka disitulah timbul suatu penyimpangan sosial.
4.Berikan tanggapan anda tentang korupsi yang ada di negara kita!
Korupsi di negara Indonesia memang menjadi suatu permasalahan yang pelik. Banyak kasus-kasus yang terjadi, bahkan sampai sekarang masih banyak yang belum terselesaikan. Kasus-kasus korupsi menunggu penanggulangan para pihak-pihak terkait untuk menyelesaikan. Karena masih banyak yang belum terungkap, rendahnya kesadaran masyarakat akan kontrol sosial bagi para penguasa dimanfaatkan untuk mengambil dan merampas hak milik rakyat. Dengan disertai berbagai argumen untuk membenarkan tindakan pelaku korupsi, tak ketinggalan mereka juga mengajak para pejabat dan pengusaha untuk bekerja sama melancarkan aksi korupsi.
Budaya korupsi memang sudah mengakar, untuk menghilangkannya harus sampai pada akarnya bukan hanya menangkap atau mengadili segelintir orang, atau dalam artian bukan sumbernya yang ditangkap tetapi hanya anak buah atau kaki tangan dari mafia-mafia itu. Sanksi yang tidak jelas juga menjadi salah satu faktor pendukung suburnya budaya korupsi. Para penegak hukum yang seharusnya menjadi suatu penegak keadilan dan bertugas mengadili, ternyata tidak kuat iman tergiur akan materi sehingga mudah disuap. Hal-hal seperti ini yang kemudian membuat krisis kepercayaan rakyat kepada para pemerintah. Rakyat semakin disengsarakan oleh para penguasa yang seharusnya mensejahterakan.
Setidaknya apabila sungguh-sungguh ingin membrantas korupsi, maka dari pemerintah sendiri juga harus melakukan perubahan, mulai dari sistem politik, ekonomi, bahkan pemikiran mereka, tentunya agar menciptakan kondisi negara yang stabil dengan pemerintah yang berdedikasi tinggi untuk negara. Untuk menanggulangi dan memecahkan masalah korupsi ini memerlukan penelitian lebih lanjut, baik mengenai gaji pemimpin, bagaimana moral serta agamanya, dan sebagainya. Penelitian ini dimaksudkan untuk lebih memahami latar belakang pemimpin dan juga mengetahui apa motif-motif serta visi misi para pemimpin.
Berbicara mengenai korupsi dapat pula diadakan mengenai pembagian menurut sifat (motif). Pertama korupsi terselubung, ialah korupsi yang secara sepintas lalu kelihatannya bermotif politik, tetapi secara tersembunyi mendapatkan uang semata-mata. Contoh seorang pejabat menerima suap dengan janji akan berusaha agar seseorang (si pemberi suap) berhasil dipilih untuk jabatan anggota DPR. Tetapi kenyataanya setelah ia menerima suap, ia tak memperdulikan lagi janjinya kepada orang yang memberi suap tersebut. Yang pokok ialah mendapat uang tersebut. Kedua yang bermotif ganda, yaitu seseorang melakukan korupsi yang secara lahiriah kelihatannya hanya bermotifkan pada uang, tetapi sesungguhnya mempunyai motif lain, yakni motif kepentingan politik. Contohnya, seseorang yang membujuk dan menyogok kepada seorang pejabat agar dengan penyalahgunaan kekuasaannya, pejabat itu mengambil keputusan memberikan suatu fasilitas kepada si pembujuk itu, meskipun sesungguhnya si pembujuk tidak memikirkan apakah fasilitas itu akan membawa hasil padanya. Yang pokok adalah dapatnya si pejabat itu menyalahi kewajibannya dengan memberikan fasilitas tersebut, sehingga dengan perbuatannya yang tercela itu, mudahlah juga si pejabat itu jauh dari jabatannya.
Korupsi sudah menjadi kejahatan yang struktural sebagai hasil interaksi sosial yang berulang dan terpadu yang menghambat orang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Begitu mengakarnya korupsi sampai membentuk struktur kejahatan yaitu faktor negatif yang terpatri dalam berbagai institusi masyarakat bekerja melawan bersama. Bahkan, karena sudah tersistematis gerakan korupsi sudah menjadi mafia. Munculnya organisasi model mafia hukum menunjukan gejala krisis institusional negara dimana ketidakadilan lebih dominan dari pada pengadilan. Korupsi merajalela sampai mengaburkan batas negara antara yang dilarang dengan yang melarang, yang ilegal dan legal, pelanggaran dan norma, jadi korupsi telah mengakar dan menjadi habitat buruk bangsa.
Mengambil langkah-langkah represif untuk menindak pelaku kejahatan korupsi merupakan salah satu pemecahan. Tetapi dengan pendekatan ini saja, kenyataannya kurang banyak berhasil. Umumnya pelaku skandal ini, memang telah melalui proses pengadilan, namun dana yang telah dikoriup sulit kembali. Perlu ditemukan cara-cara lain yang lebih efektif. Salah satu cara yang efektif, dalam arti dapat mencegah, setidak-tidaknya mengurangi perbuatan tersebut ialah, perlu kiranya dibentuk suatu badan pengawas seperti Federal Trade Commission (dibentuk pada tahun 1914) di Amerika Serikat yang bertugas mencegah persaingan curang. Dapat saja badan tersebut dapat diperankan oleh Bank Iindonesia, tetapi anggota-anggotanya diperluas, yaitu disamping pejabat-pejabat senior Bank Indonesia, juga pengusaha-pengusaha yang cukup berpengalaman, mantan ahli (praktisi), hukum seperti polisi, jaksa, hakim, dan pengacara yang memiliki reputasi tidak meragukan (Baharuddin, 2001 : 37-38).
Kini korupsi sangat kejam dan munafik. Karena sering penyuapan diiringi dengan maksud menjatuhkan si pejabat yang menerima suap. Di lain pihak si penerima suap sudah sangat berani meminta sesuatu dengan berbagai macam cara (cara halus dan kasar) dengan alasan balas jasa, seolah-olah ia sendiri tidak mendapat nafkah dari negara. Banyaak di antaranya yang hanya hidup berfoya-foya, sementara rakyat di sekelilingnya hidup melarat. Sebenarnya masih ada lagi hal-hal yang perlu disempurnakan agar UU Antikorupsi tersebut lebih efektif. Akhirnya kalau pemimpin dan pejabat mampu menjadi teladan untuk bersih dari perbuatan korupsi, hal ini sangat membantu. Kalau golongan atas sudah bersih, diharapkan pejabat-pejabat menengah ke bawah pun akan berbuat hal yang sama.
Selain itu penaganan kasus korupsi juga dapat dilakukan dengan mendirikan badan atau lembaga yang khusus menangani para pelaku korupsi. Selama ini Indonesia memiliki KPK (Komisi Penanggulangan Korupsi), tetapi tugas KPK belum efektif dijalankan, masih banyak hal-hal yang perlu diperbaiki. Kemudian sanksi-sanki bagi pelanggar korupsi juga harus tegas dan berat. Setidaknya aparat penegak hukum juga bersih dari tindakan suap, dengan sanksi dan aparat yang tidak korup diharapkan akan mengurangi peluang untuk para pelaku korupsi. Penyelesaian masalah korupsi menjadi suatu permasalahan bersama yang harus dihadapi, dengan koordinasi antara pemerintah dan masyarakat diharapkan korupsi dapat dicegah atau setidak-tidaknya dapat dikurangi. Masyarakat juga harus pro aktif dalam mengamati para pemimpin, hal ini dimaksudkan untuk kontrol sosial dari rakyat untuk pemimpin atau pemerintah.
5.Bagaimana anda membandingkan tingkah laku “menyimpang” dengan abnormal (maladjusment / tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan ?
Perilaku menyimpang :
Suatu perilaku disebut menyimpang (deviance) apabila tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Menurut kajian sosiologis, perilaku menyimpang bukan sesuatu yang melekat pada bentuk perilaku tertentu, melainkan diberi ciri penyimpangan melalui definisi sosial. Contoh, hidup di satu rumah bagi pasangan yang belum menikah di Indonesia merupakan suatu perilaku menyimpang, sedangkan di masyarakat Amerika tidak disebut sebagai perilaku menyimpang. Masyarakat Indonesia dan masyarakat Amerika memberikan definisi sosial terhadap “hidup serumah tanpa menikah” sesuai dengan nilai dan norma sosial yang ada di masyarakat masing-masing. Ukuran perilaku menyimpang bukan pada ukuran baik dan buruk atau benar salah menurut pengertian umum, melainkan berdasarkan ukuran norma dan nilai sosial suatu masyarakat tertentu. Menurut Lemert, perilaku menyimpang terjadi karena pemberian julukan, cap, atau merek tertentu yang dianggap menyimpang dari suatu masyarakat (labelling). Secara sederhana, perilaku menyimpang dipahami sebagai akibat berlangsungnya proses sosialisasi yang tidak sempurna dan adanya subkebudayaan perilaku menyimpang.
Maladjusment / abnormal / tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan :
`Merupakan suatu perilaku menyimpang, dapat juga dikatakan sebagai suatu bentuk tindakan anti sosial. Seseorang tidak mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan pasti disebabkan oleh banyak faktor. Sikap yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan merupakan salah satu bentuk perilaku menyimpang. Seseorang yang tidak mampu menyesuaikan diri biasanya menunjukan sikap yang sama sekali tidak fleksibel, dan setiap sikap anti-sosial menunjukkan ketidakmampuan untuk beradaptasi. Kecenderungan orang abnormal / maladjusment memang sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Manusia tidak dilahirkan dalam keadaaan telah mampu menyesuaikan diri, maka penyesuaian diri terhadap lingkungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan memerlukan proses yang cukup unik . Orang yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya akan cenderung berperilaku introver atau tertutup dengan dunia luar, orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya bisa jadi disebabkan karena seseorang itu tidak nyaman berada di lingkungannya, orang itu merasa bahwasannya lingkungannya itu tidak sesuai atau tidak cocok dengannya sehingga dia lebih memilih untuk menjauh atau menyendiri dari lingkungannya. Perilaku yang ditunjukan orang dengan perilaku abnormal atau tidak sama seperti masyarakat lain, akan cenderung mengasingkan orang itu dengan cap atau merek atau labelling yang diberikan masyarakat kepada orang yang abnormal itu sendiri. Sehingga muncul rasa teralinasi pada diri seseorang itu, karena mereka merasa bahwa masyarakat tidak dapat menerima mereka, sehingga mereka cenderung akan menjauh dari masyarakat itu sendiri. Seandainya dipaksakan untuk bersosialisasi pun mungkin hasilnya juga akan sama saja, karena si orang dengan adjusment atau anggapan abnormal itu tidak akan bisa lepas dari pencitraan kepada orang tersebut dari masyarakat.
Penyesuaian diri adalah suatu proses. Dan salah satu crri pokok dari kepribadian yang sehat mentalnya ialah memiliki kemampuan untukmengadakan penyesuaian diri secaara haemonis, baik terhadap sendiri maupun terhadap lingkungannya. Seseorang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya mungkin akan lebih baik jika dia memilih lingkungan yang cocok atau mampu menerima dia dengan baik. Karena biasanya jika seseorang yang tidak diterima baik oleh masayarakat akan mempengaruhi perkembangan kepribadian dari borang itu sendiri. Dengan tidak diterimanya dia oleh masyarakat, dia akan cenderung semakin introver dan semakin menutup diri dari lingkungannya, maka diperlukan dukungan dari lingkungan sekitarnya. Seharusnya orang tua atau keluarga sedari kecil memberikan pendampingan bagi anak-anaknya. Atau kalaupun orang tua yang melakukan penyimpangan dibutuhkan peran dari anggota keluarga lain untuk melakukan pendampingan.
Proses penyesuaian diri dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : kondisi fisik, tingkatan perkembangan dan kematangan, faktor psikologis, lingkungan, dan kebudayaaan. Maladjusment atau abnormal atau tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan intinya merupakan salah satu bentuk perilaku menyimpang, walaupun sebenarnya belum tentu perilaku menyimpang merupakan anti sosial.
Pada intinya maladjusment / abnormal / tidak mampu menyesuaikan diri adalah merupakan suatu bentuk perilaku menyimpang. Biasanya orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya akan cenderung berperilaku negatif. Perilaku menyimpang ada yang negatif dan positif, perilaku menyimpang cakupannya lebih luas jika dibandinhkan dengan perilaku abnormal / maladjusment / tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Karena perilaku abnormal hanya merupakan salah satu bentuk perilaku penyimpangan yang ada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s